Kisah: Cerita Remaja SMA – Expresiku
Cerita

Kisah: Cerita Remaja SMA


Kenalkan namaku Ire, aku anak SMA kelas X SMA swasta di Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tapi sayang aku selalu berada di bawah kekangan orang tuaku. Aku masuk sekolah pun harus mengikuti keinginan orang tuaku. Kadang aku jenuh dengan keadaan ini, tapi mau gimana lagi??!!

Aku menjalani hari- hariku disekolah pilihan orang tuaku. Dengan sedikit asal-asalan aku pun terus menjalaninya. Aku anaknya sedikit kriticus alias suka ngeritik..Apapun yang ada dipikiranku itu aku langsung mengungkapkannya. Tapi itu tidak bisa aku lakukan pada orang tuaku.

“Re, hari ini ada ulangan kimia  loh?!” Sapa Adel sahabatku di Sekolah.

“Peduli amat gue sama ulangan disini!” Jawabku seenaknya.

“Ya sih tapi ini buat nilai kenaikan kelas loh”.

“Bodo amat. Udahlah ga penting tau, mending kita makan.” Ajakku pada Adel

Adel hanya diam dan tidak berkata apa- apa lagi sambil mengikutiku ke kantin sekolah. Kami melanjutkan percakapan kami setelah sampai di kantin.

“Ire, ire, lo tuh pinter tapi kenapa sih lo ga peduliin sekolah loe?!” Adel memulai pembicaraan.

“Buat apa del, sekolah ini bukan sekolah yang gue mau. Jadi, mau di apa- apain juga kalo gue ga mood pasti ga bakal masuk tu pelajaran ke otak.” aku menjawab sekenanya.

“Ya tapi lo bisa kali ngembangin bakat lo ato otak lo itu?” Adel meneruskan pembicaraannya

“Udahlah ngapain sih diurusin, biarin aja napa.”aku menutup pembicaraan tentang itu.

Tiba- tiba mataku terbelakak melihat sosok cowok tampan di depanku. Sampai dia duduk di pojok sana aku terus memandanginya.

“Woy..!!”tiba- tiba adel mengagetkanku.

“Oh..iya..apa??” jawabku sedikit kaget.

“Liatin apa lo? Uggh..ada yang lagi suka nih sama si Rio?” Adel langsung bisa menebak pikiranku,

“engga ko, ngaco lo”.

“Ternyata lo normal juga, gue kira lo tuh…hahaha”. Adel tertawa sendiri

“Maksud lo?”

“Hahaha..engga ko, ya gue bersyukur aja lo normal”.

“Sialan lo.”

“Ternyata masih jaman nih love at first sight?” goda Adel.

“Apaan sih..engga kali cuma gue ko selama ini baru liat dia ya?” Kataku sambil mengalihkan pembicaraan.

“Kemana aja lo, semua orang udah jadi pemuja si Rio lo malah baru tau.”

“Hah yang bener lo?” Tanyaku ga percaya

“Huuu…yang lagi kasmaran..mukanya biasa aja kalee”.

“Apaan sih lo. Gue kan udah biasa.” Kataku sambil mencairkan keadaan.

“Gue udah biasa sih liat cewek aksinya kayak lo, malah ada yang lebih parah. Gue juga suka sih sama Rio tapi ya.. gue engga mau ninggalin  Adit, dia udah terpatri di hari gue.” Kata Adel dengan peruh ambisi.

” Gaya lo..TERPATRI..emang apa istimewanya sih si adit lo itu?? Udah pendek, kurus lagi.” sambil aku acak- acak rambut adel.

“Asal aja lo. Si adit sekarang udah berisi tau, dia ikut fitness.” Bela adel buat kekasihnya itu.

“Haha..iya deh..percaya..percaya.”

Bel masuk berbunyi..kami langsung pergi meninggalkan kantin

Hari- hari berlalu dan aku terus memandangi sosok Rio, bahkan aku sering berpikir berpacaran dengannya. Dan aku pun sering mengelak saat aku di goda Adel. sampai suatu hari..

“Hai re!” tanya Rio saat di kelasku.

Aku sedikit kaget melihat dia di depanku.
“H..Hai juga. Ada apa?”

Tdak pernah aku se nervous ini sama cowok

“Engga ada apa- apa sih cuma pengen kenal aja”. Kata Rio sambil duduk di sampingku
Sumpah deh engga tau ada durian runtuh atau ke samber petir yang pasti saat itu aku udah mati kutu.

Tiba- tiba Adel datang..

“Cie,,, suit..suit. Lanjutin aja PDKT-nya.”

“Adeeel..??” Sambil aku mengerlingkan mata padanya.

“Ada apa tuan putri? Tenang aja gue ga bakal ganggu ko”.

Dan dengan sengaja Adel meninggalkan aku dan Rio. Rio hanya senyum- senyum melihat kepergian Adel.

“Dasar Adel, jangan di ambil hati ya omongan dia.” Kataku pada Rio

“Tenang aja aku ga bakal ambil hati dia, tapi bakalan ambil hati kamu.”

Dug..engga tau kenapa aku langsung kaget and shocked mendengarnya.

“Haha..engga ko becanda. Tapi serius juga ga papa sih.”

Duh engga tau deh muka aku kali ini kayak gimana, ternyata rio orangnya reserved and sedikit membuat jantungan.

“hehe..aku tertawa bingung.”

Dari situ aku semakin dekat dengan Rio meskipun itu hanya di sekolah karena aku melarang dia kerumahku. Ada beberapa kakak kelas dan teman- temanku menegurku gara- gara aku dekat dengan Rio. Tapi aku tidak peduli dengan semua itu.

“Re, aku boleh ngomong engga?” Kata Rio saat ke kelasku. Karena kelasku dengan kelasnya berbeda.

“Iya, ngomong aja Yo.” Jawabku

“Sebenernya aku suka sama kamu.”

Deg..hatiku kembali shocked mendengar kata-kata Rio. Sebenarnya Rio itu baik, perhatian, sedikit pendiam dan yang pasti dia pintar di sekolahku. Aku diam sejenak.

“Sebenarnya aku juga suka sama kamu, tapi aku takut sama orang tuaku Yo. Mereka belum memperbolehkan aku pacaran.” Kataku menjelaskan.

“Boleh aku ketemu sama orang tua kamu?”. Rio benar- benar membuat aku suspense.

“Hmm..gimana ya? Aku takut kamu kena marah Yo.”

“Udah ga papa, aku pengen tau apa sih yang mereka mau.”

Rio benar- benar cowok dewasa dan konsekuen. Makanya banyak cewek- cewek yang ngejar- ngejar dia.

Dengan sedikit bingung aku mengangguk mendengar pernyataan Rio.

Hari itu Rio datang ke rumahku.

“tok..tok..tok..assalamu’alaikum”.

Aku lalu membukanya.

“Wa’alaikum salam..Rio..Kamu..??!!”

Tiba- tiba Ibuku datang.

“Oh ada nak Rio?”

Aku bengong melihatnya.

“Mama kenal sama Rio?” Kataku heran

“Kenal dong, ini anak temen mama. Oh jadi ini pacar kamu Re?”

“Hah..mama..ko engga bilang sama Ire?”Aku sedikit manja pada mamaku.

Rio senyum- senyum kecil.

“Mama setuju kamu pacaran sama Rio asalkan kamu bisa mama banggakan seperti dulu lagi. Kamu sanggup?”

“Tapi ma,  aku…” Aku berpikir sejenak. Lalu..

“Aku sanggup mam..” Mamaku tertawa melihat tingkahku.

“Kamu ternyata sudah besar Re, mama percaya kamu bisa memilih mana yang baik buat kamu dan mana yang engga baik buat kamu.” Kata mamaku sambil mengelus rambutku.

Lalu mamaku meninggalkan aku dan Rio..

“Nak Rio, tante ke dalam dulu ya.!!”

“iya tan.” Kata Rio

Aku masih tidak percaya dengan semua ini kenapa aku menyetujui persyaratan mamaku untuk bisa mendapat peringkat lagi di sekolah hanya gara- gara ingin pacaran dengan Rio.

“Kamu engga mau kehilangan aku ya?” tiba- tiba Rio membuka pembicaraan.

“Enak aja, aku cuma pengen ngebanggain orang tuaku.” kataku ngeles.

“Masa sih, engga percaya tuh”.

“Udah ah, kamu ini.. Sekarang bantuin aku buat bisa peringkat lagi.” Kataku sedikit melas

“Berarti aku jadi rival kamu dong?? Tapi ga apa- apa aku rela ko Re,” dengan sedikit genit rio melihatku.

“Apaan sih Yo.” aku memukul Rio dengan bantal di kursi

“Udah tenang aja,,kita jalani aja.”

Lalu aku refleks memeluk Rio.

“Ire..” langsung saja Rio melepaskan tangan aku dari tubuhnya.

“Iya..maaf.”

Beberapa bulan kemudian…

Aku dan Rio mendapat peringkat. Kami naik ke kelas XI.dan  kami masih tidak sekelas. Mamaku bangga kepadaku.

Sekarang aku baru menyadari bahwa orang tua melakukan semua itu untuk kebaikan kita juga. Tak ada orang tua yang tak sayang pada anaknya.

Aku dan Rio terus menjalin hubungan tanpa ada yang menghalangi.

loading...

PALING POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!